CBC: Waspadai AS akan caplok dunia

Center for Banking Crisis (CBC) mensinyalir dana sebesar US$700 miliar yang diajukan pemerintah George Walker Bush dinisbahkan untuk mencaplok dunia lewat aksi borong saham yang sedang jatuh ke titik nadir.

Achmad Deni Daruri, Presdir CBC, memaparkan proposal Menkeu AS Henry Paulson itu jika disetujui cukup untuk menggoyang pasar saham dan mata uang dunia. Tujuannya jelas untuk mendapatkan keuntungan jangka pendek dan menengah lewat jaringan perbankan Amerika Serikat yang sudah mendunia, sehingga memudahkan Amerika Serikat untuk bermain untuk kepentingannya sendiri.

“Untung saja Partai Demokrat menolak proposal itu, jika itu terjadi sama saja merestui penjajahan ekonomi dunia,” katanya dalam siaran persnya kemarin.

Amerika Serikat, menurut Deni, sangat menyadari bahwa belum ada lembaga internasional dunia, termasuk yang dibentuk oleh Bretton Woods, untuk menjadi polisi dunia dalam hal pasar keuangan dunia. Karena itu momentum ini akan dimanfaatkan AS untuk kembali menguasai dunia.

Untung saja, G7, termasuk PM Italia Silvio Berlusconi, tampaknya membaca maksud buruk AS tersebut dalam menciptakan informasi asimetrik (Arkelof, Spence, dan Stiglitz 2001) sehingga mengatakan kepada publik dunia bahwa sebaiknya pasar saham dan keuangan dunia ditutup hingga ada kejelasan berupa langkah-langkah konktretnya.

Bahkan PM Rusia Vladimir Putin juga menggertak bahwa minggu ini Rusia akan memulai pembelian saham setelah melakukan suspensi saham secara konsisten. Pernyataan Berlusconi dan Putin itu sempat membuat harga saham di AS mengalami reversal pada Jumat pekan lalu dari kejatuhannya, walaupun akhirnya ditutup pada posisi negatif karena persoalan dalam signaling dan screening dianggap publik dapat dihindari.

Sementara China, tambahnya, sengaja membuka perdagangan short selling dan margin trading agar investor asing yang memiliki saham tidak memiliki kemampuan dalam mengontrol kejatuhan pasar modal China mengingat investor China (lokal) yang tidak memiliki saham dapat membuat investor asing merugi karena salah perhitungan.

“Sehingga membuka kemungkinan agar investor lokal mendapatkan keuntungan dari jatuhnya harga saham yang disengaja oleh Amerika Serikat itu,” tegasnya.

Di tengah kondisi eksternal tersebut, kata Deni, konsistensi dan transparansi dalam kebijakan publik di Republik Indonesia ini justru terlihat semakin hilang karena JP Morgan yang merupakan tangan kanan pemerintah AS ternyata juga bermain dengan kelompok Bakrie.

Dia mensinyalir hingga saat ini langkah-langkah pemerintah untuk mengatasi krisis keuangan global masih sebatas awang-awang sebelum pemerintah berani menangkap oknum dari JP Morgan dan/atau Bakrie tersebut jika terbukti bersalah. Buktinya pemerintah terkesan tak percaya dengan otoritas pasar modal yang disetir oleh kelompok kepentingan dengan membuat task force khusus.

“Artinya Bapepam hanya merupakan macan diatas kertas, sementara BPK tidak pernah dilibatkan. Siapa di Indonesia ini yang berani menangkap oknum JP Morgan sekalipun nantinya terbukti bersalah? Jelas kasus ini hanya sebagai bumbu penyedap berita publik karena mereka berkepentingan agar saham tidak terus turun,” tuturnya.

Deni menilai langkah-langkah pemerintah justru semakin membingungkan pasar, misalnya Menteri Keuangan mengadakan rapat di hari minggu setelah lebaran yang justru ditanggapi negatif oleh pasar karena kebijakan yang dikeluarkan pemerintah dianggap oleh pasar tak menjawab permasalahan yang ada. Termasuk pertemuan antara presiden dengan dunia usaha yang tidak merepresentasikan kekuatan ekonomi Indonesia yang sesungguhnya dan tentu tak dihargai oleh pasar.

“Karena pertemuan itu tidak membahas Incentive-Intensity Principle (Prendergast (1999)) dimana bonus dan gaji otoritas pasar modal, Anggota Bursa, bank dan emiten belum tersentuh untuk dipangkas habis-habisan seperti di Amerika Serikat dan Eropa,” tegasnya.

Akibatnya, kata Deni, IHSG terus meluncur turun dengan deras. Ia menduga pekan ini adalah pekan dimana akan terjadi panic selling lanjutan pasca penutupan bursa sebelumnya, yang mana belum ada penjelasan yang cukup kepada pasar tentang persoalan yang ada dan bagaimana cara otoritas pasar modal menanganinya.

Tags: , , , , , , ,

Leave a Reply