Selama sepekan terakhir, bursa saham diwarnai aksi suspend perdagangan pada pertengahan pekan atau Rabu karena level IHSG anjlok cukup signifikan.
Pada awal pekan, IHSG ditutup di level 1.648,74 (-10,03%), Selasa ditutup di level 1.619,72 (-1,76%), dan menjelang akhir sesi I perdagangan Rabu IHSG terkoreksi dan ditutup di level 1.451,67 (-10,38%). Pemberhentian perdagangan tersebut ditujukan agar IHSG tidak melemah ke level yang lebih rendah lagi.
Dari internal bursa, anjloknya bursa selama tiga hari pekan kemarin disebabkan oleh beberapa faktor di antaranya data inflasi September 2008 yang naik menjadi 0,97% dari? Agustus 2008, sedangkan pada Agustus hanya naik sebesar 0,51%. Inflasi September untuk level tahunan telah mencapai level 12,14%.
Merespons naiknya laju inflasi tersebut, Bank Indonesia kembali menaikkan suku bunga BI Rate menjadi 9,5% atau naik 25 basis poin yang diharapkan dapat meredam gejolak kenaikan harga dengan meningkatkan aliran dana masuk ke Indonesia untuk memperkuat nilai tukar rupiah terhadap dolar AS.
Kondisi yang terjadi justru sebaliknya, kenaikan BI Rate menambah kepanikan pelaku pasar karena berpotensi memperberat dunia usaha dalam mendapatkan kredit perbankan dan menurunkan daya saing industri akibat naiknya biaya dana.
Selain itu, kenaikan BI Rate pasti akan diikuti oleh kenaikan suku bunga kredit yang memperberat biaya kredit konsumsi masyarakat dan berujung melemahnya penjualan di beberapa sektor, seperti konsumsi, industri dasar, dan aneka industri terutama otomotif dan ancaman kredit macet yang membayangi sektor perbankan, sehingga mendorong investor melepaskan asetnya di bursa. (Harry Setiadi Utomo, Analis Bisnis Indonesia Intelligence Unit)