Bali Sec: Beli selektif TLKM, INDF, UNVR, PGAS

Pasar modal Indonesia akan mengalami cobaan hari ini setelah ditutup selama 3 hari yang rencananya dibuka mulai pagi ini. Investor dapat melakukan pembelian selektif saham-saham seperti TLKM, INDF, UNVR, PGAS, JSMR, BBCA, BBRI, TINS dan beberapa saham-saham BUMN lainnya.

Riset Analis Bali Securities Ketut Tri Bayuna mengatakan pada saat ini investor ditawari saham-saham yang mempunyai fundamental yang baik dengan harga yang sangat murah. Namun demikian investor diharapkan berhati-hati karena volatilitas harga saham sangat tinggi sebagai indikasi bahwa keadaan sudah bottom.

“Indeks harga saham gabungan (IHSG) akan mendapat tekanan dari investor yang tidak dapat membaca dan tidak mendapat informasi yang sesungguhnya dari informasi seputar krisis finansial global,” kata Ketut.

Krisis finansial global dimulai dari krisis sektor perumahan di Amerika Serikat Agustus tahun lalu. Krisis ini lebih dikenal sebagai krisis subprime mortgage. Krisis subprime mortgage ini diawali dari penurunan nilai aset mortgage yang dipicu oleh penurunan kepercayaan pasar dan penilaian terhadap aset ini.

Nilai subprime mortgage dan turunannya, yang dijual lewat sekuritisasi aset, merosot tajam karena bubble harga perumahan yang sebelumnya meningkat tajam pecah. Hal ini menyeret aset-aset berbasis mortgage lainnya. Hal ini selanjutnya menurunkan pasar kredit dimana hampir semua aset berbasis jaminan rumah dan jaminan berbasis aset riil lainnya turun. Pasar kredit menjadi sangat rapuh. Hampir semua aset berbasis morgage menyeret aset lainya seperti layaknya efek domino.

Bursa Wall Street AS yang banyak menjual aset-aset ini panik, banyak saham perbankan turun tajam harganya, investment bank yang banyak memegang dan memperjual-belikan aset–aset ini bangkrut. Pasar kredit tidak berjalan, investor tidak mempercayai saham-saham dan investasinya di pasar modal. Investor makin banyak yang melakukan spekulasi diinvestasi komoditas.

Harga komoditas naik tajam padahal tidak didukung oleh pertumbuhan permintaan yang nyata. Harga minyak dan harga pangan naik tajam yang sempat mengancam? negara-negara yang tidak berhubungan langsung dengan krisis keuangan ini. Kenaikan harga komoditas mendorong ancaman inflasi di hampir semua negara karena kenaikan harga minyak dan pangan. Kenaikan akan harga komoditas tadi akhirnya memicu perlambatan pertumbuhan ekonomi global. Harga sumber daya bagi industri menjadi melonjak tajam sehingga industri tidak tahan.

Akibatnya pertumbuhan industri menurun karena biaya tinggi dan perlambatan permintaan produk karena menurunnya tingkat konsumsi karena masyarakat lebih banyak menggunakan dananya untuk menutupi kenaikan harga pangan dan konsumsi lainnya. Dengan demikian ada ancaman inflasi dan perlambatan pertumbuhan ekonomi yang terjadi bersama-sama, atau disebut Stagflasi.

Ketika harga komoditas sudah mencapai titik tertingginya karena spekulasi tersebut, bubble komoditas pecah dan membuat harga minyak turun dari US$147,27 pada 11 Juli 2008 ke harga US$80 pada hari ini. Dalam waktu tiga bulan harga minyak turun hampir separuhnya. Sementara itu krisis pasar kredit berlanjut dan lebih jauh menyeret pasar modal di negara-negara maju.

Setelah beberapa usaha yang gagal untuk menenangkan pasar, pemerintah negara-negara maju seperti di Amerika dan Eropa mulai minggu lalu mengarahkan konsentrasinya untuk menggalang persatuan untuk mengatasi krisis di sektor keuangan, pasar kredit dan pasar modal secara terkoordinasi melalui kerjasama antar negara. Kemarin negara anggota G-7 dan G-20 bertemu di Washington, AS untuk membahas langkah riil untuk mengatasi gejolak di sektor keuangan ini.

Ketut menambahkan walaupun krisis di sektor finansial belum menyentuh ekonomi secara keseluruhan, hanya terbatas pada resisi di Amerika, Eropa dan Jepang dan Singapura saja, krisis belum sampai mengancam ekonomi Indonesia. Perkembangan terakhir di Amerika kemungkinan lebih memberi harapan bahwa krisis finansial di negara-negara maju tersebut akan berlalu sebelum mengancam ekonomi AS, Eropa dan negara lainnya ketingkat yang lebih parah.

Pasar saham Indonesia yang mengalami tekanan akibat sentimen negatif ke pasar saham global, mengalami penurunan sekitar 40%. Namun demikian sentimen tersebut hanya terbatas di pasar saham saja, sedangkan pasar kredit, perbankan dan ekonomi secara keseluruhan tidak terpengaruh.

Hal ini dikarenakan investor dunia melihat bahwa fundamental ekonomi Indonesia masih kuat selain karena ekonomi Indonesia tidak terlalu tergantung oleh pasar saham. Perusahaan-perusahaan yang listing di pasar saham hanya sebagian kecil saja dari ekonomi Indonesia. Kesulitan ekonomi akibat dari ancaman inflasi dan kenaikan bahan pangan dan harga minyak belum mengancam ekonomi secara keseluruhan sehingga setimen negatif ke pasar saham tidak mengganggu laju perekonomian.

Perbankan makin baik kondisinya didukung oleh meningkatnya dana simpanan masyarakat. Laju pertumbuhan ekonomi 6% tentunya mendukung pertumbuhan kesejahteraan ekonomi rakyat yang dapat menopang ketahanan ekonomi dari gunjangan di pasar saham.

“Dengan demikian investor pasar modal hendaknya mengerti bahwa usaha pembenahan sektor finansial global sedang terjadi. Usaha negara-negara maju untuk membenahi sektor finansial masing-masing negara, sedikit demi sedikit pasti berhasil. Sementara itu usaha-usaha penyelamatan fundamental ekonomi negara-negara maju tersebut akan dimulai setelah itu. Untuk itulah investor diharap bersabar karena hal ini akan memerlukan waktu,” tutur Ketut.

Dia menambahkan investor di pasar saham dalam negeri tidak perlu panik dan takut akan krisis di negara Amerika atau Eropa. Fundamental ekonomi kita masih utuh dan kuat. Pemulihan krisis di negara maju akan terjadi dalam waktu dekat. Disaat ini justru karena saham-saham sudah turun pada harga yang sangat murah, memberikan buying opportunity yang besar bagi investor lokal.

Pemulihan sektor finansial global tidak akan lama, seperti pengalaman bursa saham di Amerika pada 1987 atau 1997 (krisis finansial Asia) dan tahun 2001 (internet bubble). Pada waktu itu harga saham kembali ke tingkat semulanya dalam waktu 6 bulan setelah investor menyadari akan terjadi pemulihan.

Tags: , , , , , , , ,

Leave a Reply