Agen perjalanan harapkan langkah sinergis

Kalangan agen perjalanan berharap ada langkah sinergis dan strategis dari pemerintah maupun swasta untuk menghadapi krisis ekonomi dunia di saat musim panen kunjungan wisman ke Indonesia.

“Bulan Oktober hingga Desember justru musim panen bagi travel agent, namun dengan krisis ekonomi yang terjadi di Amerika Serikat dan berdampak ke Eropa hingga Jepang maka kami harus bersiap dengan potensial loss hingga 30% dari omzet dalam kondisi normal,” kata Rudiana, sales & marketing director Wita Tour.

Menurut dia, hingga saat ini memang belum ada pembatalan kunjungan wisatawan Eropa maupun Jepang untuk liburan akhir tahun. “Tolak ukurnya nanti di bulan November, jika tidak ada pembatalan yang berarti maka berarti Desember dan seterusnya bisnis kami akan aman,” kata Rudiana.

Saat ini, ujarnya, banyak calon wisatawan yang akan berkunjung ke Indonesia bersikap menunggu perkembangan situasi krisis global ini. Harus diakui meski sudah menjadi bagian dari gaya hidup, namun berwisata bukan prioritas utama sehingga bisa saja terjadi penangguhan meski bukan pembatalan kunjungan.

Dia memprediksi krisis keuangan global ini akan mempengaruhi pencapaian target kunjungan 7 juta wisman selama Visit Indonesia Year 2008. Usulan agar pemerintah memperbanyak izin masuk pesawat carter asing ke pintu-pintu gerbang wisata lainnya juga bukan solusi yang tepat.

“Pesawat carter dari Rusia umumnya pesawat berbadan lebar dengan 300 penumpang yang bisa mendarat di Bali. Kalau pesawat carter bisa masuk ke bandara-bandara lainnya apa landasan pacunya mencukupi, apa imigrasinya siap?,” tambahnya.

Sementara itu, pengamat pariwisata Diyak Mulahela dari Lembaga Pengembangan Informasi Pariwisata (Lepita) menyatakan optimistis krisis keuangan global tidak memberikan dampak serius bagi kunjungan wisman ke Indonesia.

“Produk wisata kita kompetitif bahkan masuk kategori paket wisata termurah karena hotel bintang empat dan lima saja harganya hanya US$60-US$70/malam jadi wisatawan dari Eropa, Jepang dan Amerika Serikat terutama yang sudah menjadi repeater guest akan tetap datang,” kata Diyak.

Menurut dia, Depbudpar jangan hanya terpaku pada pencapaian target kunjungan 7 juta wisatawan tahun 2008 ini tapi bagaimana terus gencar berpromosi sehingga devisa pariwisata bisa digenjot mencapai lebih dari US$10 miliar.

“Bukan krisis keuangan AS yang kita khawatirkan tapi justru bagaimana pencabutan travel warning dari Amerika Serikat itu kita jadikan momentum untuk menunjukkan pada dunia bahwa berwisata ke Indonesia itu aman, nyaman dan murah.”

Begitu pula halnya dalam hal menjaring wisatawan Jepang, meski beberapa perusahaan besar di Jepang rontok akibat krisis global ini tapi untuk wisatawan kelas menengah ke atas tidak akan mengubah keputusannya untuk berlibur.

Tags: , ,

Leave a Reply