PUMPUNAN
Jakarta, 18/6 (ANTARA) – Keperkasaan perempuan dalam menggerakkan roda ekonomi sektor rill tidak diragukan, kemampuan mereka terbukti setara dengan laki-laki.Data Kementerian Negara Koperasi dan UKM menyebutkan dari sekitar 40 juta pengusaha skala mikro dan kecil di Indonesia pada 2006, sebanyak 60 persen di antaranya digerakkan oleh perempuan.Oleh karena itulah perempuan dianggap sebagai kelompok yang sangat strategis dalam pengembangan usaha mikro dan kecil.
Tidak terkecuali di Banyumas Jawa Tengah. Di kabupaten berpenduduk sekitar 1,7 juta jiwa tersebut telah tumbuh setidaknya delapan koperasi perempuan yang bergerak di berbagai sektor.”Koperasi wanita yang tumbuh di Banyumas dan telah berbadan hukum hingga kini sudah delapan koperasi,” kata Kepala Bidang Koperasi Dinas Koperasi dan UKM Banyumas H Ikhsan.Sebagian besar koperasi perempuan tersebut memfokuskan kegiatanusahanya pada unit usaha simpan pinjam dan beberapa lainnya pada unit pembayaran rekening listrik dan telepon.
Kedelapan koperasi perempuan itu tersebar di seluruh KabupatenBanyumas dan menyerap setidaknya lebih dari 850 anggota yangseluruhnya perempuan.Koperasi perempuan yang telah berbadan hukum dan aktif melaksanakan rapat anggota tahunan yaitu Koperasi Tirta Kencana, Koperasi Sejahtera, Koperasi Sekar Arum, Koperasi Annisa, Koperasi Kencana, Koperasi Srikandi, Koperasi Kowapi, dan Koperasi Mawar Mekar.Namun, pertumbuhan koperasi perempuan yang sebenarnya amat potensial tersebut belum sepenuhnya didukung oleh bantuan perkuatan permodalan dari pemerintah. Ikhsan mengatakan, hingga kini belum satupun koperasi perempuan di Banyumas mendapatkan bantuan perkuatan modal dari pemerintah yangdikhususkan bagi koperasi perempuan yaitu program Perempuan Keluarga Sehat dan Sejahtera (Perkassa).”Untuk program Perkassa belum ada satupun koperasi wanita yangmendapatkannya di kabupaten Banyumas,” katanya.
Padahal sudah sejak beberapa tahun lalu Kementerian Negara Koperasi dan UKM mengembangkan program Perkassa untuk memberikan perkuatan permodalan kepada perempuan pengusaha.Bantuan permodalan itu diberikan melalui koperasi baik koperasi simpan pinjam, unit simpan pinjam koperasi, maupun koperasi jasa keuangan syariah.Pada 2006 sudah sebanyak 200 koperasi perempuan mendapatbantuan perkuatan modal melalui program Perkassa. Pada 2007bertambah menjadi 250 menjadi 450 koperasi.Pada 2008 direncanakan akan ada 1000 koperasi perempuan yang mendapat bantuan tersebut masing-masing Rp100 juta per koperasi untuk kemudian disalurkan kepada pengusaha di level mikro dan kecil yang digerakkan perempuan.Maksimum satu perempuan pengusaha diharapkan akan mendapatkan alokasi dana Rp4 juta.DitolakKepala Seksi Fasilitasi dan Pembiayaan Koperasi Dinas Koperasi dan UKM Banyumas Sugiarto mengatakan, pada 2007 pihaknya sempat mendampingi dan memfasilitasi salah satu koperasi perempuan untuk mendapatkan bantuan modal melalui program Perkassa.”Kami sudah memfasilitasi Kowapi (Koperasi Wanita Pengusaha Indonesia) Banyumas tahun lalu untuk mengajukan bantuan modal melalui Perkassa,” kata Sugiarto. Namun pengajuan tersebut ditolak alias tidak berhasilmendapatkan bantuan modal Perkassa. Padahal, Kowapi Banyumas dinilai merupakan salah satu koperasi paling baik dan paling sehat se Jawa Tengah.”
Ada 8 koperasi wanita yang aktif di Banyumas dan Kowapi ini adalah yang terbaik di mana dari kegiatan usaha simpan pinjamnya berjalan paling lancar,” katanya.Bukti nyata keberhasilan Kowapi Banyumas terindikasi dari kemampuannya menekan kredit bermasalah hingga nol persen.Padahal usaha-usaha besar kerap kali masuk daftar hitam kreditbermasalah baik di perbankan maupun non perbankan.Kowapi saat ini juga telah memiliki aset mencapai Rp3,4 miliar dengan jumlah anggota mencapai 132 orang.Ketua Kowapi Banyumas Endah S.I. Sulistyo mengatakan, sampaisejauh ini perputaran modal Kowapi terutama bagi anggota-anggotanyamisalnya di Pasar Glempang Banyumas tergolong sangat baik.”Bantuan modal seperti melalui Perkassa akan memperluas jangkauan kami sehingga semakin banyak anggota mengakses modal dengan lebih mudah,” kata Endah.Ia mengatakan, Kowapi secara lembaga ingin memberdayakan pelaku UKM perempuan di Banyumas agar lebih mudah mengakses sumber pendanaan untuk meningkatkan usahanya.”Kami ingin lebih banyak perempuan pengusaha menjadi anggota dan mampu mengakses pendanaan dengan lebih mudah dari Kowapi,” katanya.
Oleh karena itu, ia berharap program Perkassa bukan sekadar “perona merah” dan pemanis belaka yang hanya dapat dibaca di media massa melainkan juga dapat diakses dan diambil manfaatnya secara optimal. Untuk menyiasati keterbatasan modal selama ini, koperasi perempuan di Banyumas termasuk Kowapi pada umumnya langsung mengakses pinjaman kepada perbankan.Pada 2007, misalnya, Kowapi mendapatkan kredit dari BRI sebesar Rp137 juta. Sementara itu, upaya untuk menekan kredit macet hingga nol persen, Kowapi Banyumas menerapkan pola tanggung renteng.”Pinjaman di Kowapi nol persen kemacetannya sejak diterapkan kelompok tanggung renteng yang berprinsip pada kejujuran anggotanya,” kata Endah.
Pola tanggung renteng sejauh ini terbukti merupakan cara palingefektif untuk menekan kredit bermasalah karena sistem kerjanya yang berkelompok.Melalui kelompok itulah bila ada salah satu anggota yangtidak mampu mengembalikan pinjaman akan dibicarakan secara jujur dankekeluargaan kemudian dicarikan jalan keluar terbaik.”Kelompok tanggung renteng di Kowapi sekarang ada 6 kelompok yang masing-masing anggotanya maksimal 30 orang,” katanya.Meskipun begitu, Endah mengatakan, Kowapi hanya akan menjadi koperasi yang sama dari tahun ke tahun bila tidak ada suntikan modal dari luar.”Kalau begini terus percayalah kami tidak akan berkembang,” katanya.
Tags: banyumas, Koperasi Wanita, perempuan perkasa, Perkassa, ukm